Apakah Suami Miskin Harta Bisa Tetap Memiliki Qowwamah Tinggi?

Bismillah.
Salah satu pertanyaan menarik dalam pembahasan tentang Qowwamah datang dari seorang peserta mentoring:
“Apabila istri dan lingkungan mengetahui bahwa suaminya miskin harta, hanya memiliki Modal Konsisten dan Do’a (MOKONDO) saja, meskipun tidak dipublikasikan, apakah hal tersebut tidak akan memengaruhi level Qowwamah?”
Pertanyaan ini menarik karena menyentuh satu persoalan yang sering keliru dipahami:
Apakah Qowwamah seorang suami ditentukan oleh banyaknya harta yang ia miliki?
Jawabannya: tidak sesederhana itu.
Namun, mengatakan bahwa harta tidak penting juga merupakan kekeliruan.
Seorang suami mungkin belum kaya, tetapi ia tetap dapat memiliki Qowwamah yang kuat. Sebaliknya, seorang laki-laki yang memiliki banyak harta belum tentu memiliki Qowwamah yang tinggi.
Karena Qowwamah bukan sekadar persoalan kekayaan.
Qowwamah adalah amanah kepemimpinan.
Qowwamah Bukan Kekayaan, Tetapi Harta Tetap Menjadi Instrumen Qowwamah
Qowwamah bukanlah perlombaan siapa yang paling kaya.
Seorang laki-laki tidak otomatis menjadi suami Qowwam hanya karena memiliki banyak uang.
Sebaliknya, seorang laki-laki juga tidak otomatis kehilangan Qowwamah hanya karena hartanya terbatas.
Qowwamah membutuhkan berbagai kapasitas, di antaranya:
- Iman dan ketakwaan
- Tanggung jawab
- Keberanian mengambil keputusan
- Kemampuan melindungi
- Kemampuan memenuhi kewajiban
- Keteguhan jiwa
- Keluasan wawasan
- Kemampuan mengelola keluarga
- Kemampuan menggunakan sebab-sebab yang Allah berikan
- Kemampuan memimpin diri sendiri
Harta adalah salah satu instrumen untuk menjalankan amanah tersebut.
Maka persoalannya bukan hanya:
“Berapa banyak hartamu?”
Tetapi pertanyaan yang lebih penting adalah:
“Seberapa besar kemampuanmu menjalankan amanah sebagai Qowwam?”
Seorang suami boleh saja belum kaya.
Tetapi ia tidak boleh miskin tanggung jawab.
Boleh belum memiliki banyak harta.
Tetapi jangan miskin ikhtiar.
Boleh hidup sederhana.
Tetapi jangan kehilangan visi, keberanian, kemampuan, dan daya juang.
MOKONDO Tidak Boleh Menjadi Alibi
Saya menyukai semangat Modal Konsisten dan Do’a (MOKONDO).
Konsistensi adalah kekuatan.
Doa adalah kebutuhan.
Tetapi keduanya harus ditempatkan dalam bingkai yang benar.
Jangan sampai istilah MOKONDO berubah menjadi pembenaran:
“Saya tidak punya harta, tetapi saya punya doa. Maka saya tidak perlu membangun kemampuan.”
Ini bukan tawakkal.
Tawakkal bukan menggantikan ikhtiar. Tawakkal adalah bingkai bagi ikhtiar.
Seorang Qowwam harus tetap berusaha membangun:
- Hartanya
- Ilmunya
- Kesehatannya
- Keterampilannya
- Relasinya
- Kapasitas kepemimpinannya
- Kemampuan mengelola keluarga
- Berbagai sebab yang dibutuhkan untuk menjalankan amanah
Doa tanpa ikhtiar adalah kelemahan.
Ikhtiar tanpa tawakkal dapat membuat seseorang bergantung kepada sebab.
Tetapi:
“Ikhtiar maksimal yang diletakkan dalam bingkai tawakkal adalah karakter seorang hamba yang bertauhid.”
Jangan Bergantung kepada Harta, Tetapi Jangan Meremehkan Harta
Di sinilah letak keseimbangan.
Seorang suami tidak boleh merasa:
“Saya kuat karena saya kaya.”
Sebab kekayaan bisa hilang.
Tetapi ia juga tidak boleh mengatakan:
“Harta tidak penting karena Allah yang menjamin rezeki.”
Lalu ia berhenti berusaha.
Yang benar adalah:
“Harta digunakan sebagai sebab, tetapi hati tidak bergantung kepada harta.”
Kita menggunakan uang, tetapi tidak menyembah uang.
Kita membangun bisnis, tetapi tidak menggantungkan keselamatan kepada bisnis.
Kita mengembangkan aset, tetapi tidak menjadikan aset sebagai sumber ketenangan hati.
Kita meminta bantuan manusia, tetapi hati tetap meminta pertolongan kepada Allah.
Inilah konsekuensi dari:
اللَّهُ أَحَدٌ اللَّهُ الصَّمَدُ
Allahu Ahad. Allahu Shomad.
Allah Maha Esa.
Allah tempat bergantung.
Maka seorang mukmin boleh memiliki banyak sebab, tetapi ketergantungannya tetap hanya kepada Allah.
Yang Lebih Berbahaya daripada Miskin Harta adalah Miskin Daya
Ada suami yang hartanya sedikit tetapi dayanya besar.
Ia punya visi.
Ia konsisten.
Ia mau belajar.
Ia berani mengambil tanggung jawab.
Ia mampu memimpin.
Ia terus bertumbuh.
Ia tidak mudah menyerah.
Ia mampu mengelola keadaan.
Ia memiliki keteguhan jiwa.
Suami seperti ini mungkin hari ini belum kaya, tetapi ia memiliki potensi Qowwamah yang kuat.
Sebaliknya, ada laki-laki yang hartanya banyak tetapi dirinya lemah.
Sedikit masalah langsung panik.
Sedikit tekanan langsung menyerah.
Tidak mampu mengambil keputusan.
Tidak mampu mengendalikan dirinya.
Tidak mampu mengelola keluarga.
Bahkan seluruh kekuatannya hanya bertumpu pada uang.
Harta yang banyak tidak otomatis melahirkan Qowwamah yang tinggi.
Karena itu saya sering mengatakan:
“Jangan hanya membangun harta. Bangunlah manusia yang memiliki harta.”
Sebab harta yang besar di tangan manusia yang kecil jiwanya justru dapat menjadi sumber kerusakan.
Bagaimana Jika Istri dan Lingkungan Mengetahui Suami Miskin?
Inilah bagian yang lebih sensitif.
Pengetahuan tentang kondisi finansial seseorang memang dapat memengaruhi persepsi orang terhadap dirinya.
Manusia sering menilai seseorang berdasarkan apa yang tampak.
Ketika orang mengetahui seorang suami tidak memiliki banyak harta, sebagian mungkin memandangnya rendah.
Sebagian mungkin meragukan kemampuannya.
Sebagian lainnya bahkan mungkin menjadikan kondisi finansial sebagai ukuran terhadap kapasitas kepemimpinannya.
Namun seorang Qowwam tidak boleh menggantungkan kewibawaannya kepada persepsi manusia.
“Wibawa yang sehat lahir dari kapasitas nyata, bukan pencitraan.”
Karena itu, menjaga informasi tentang harta tetap terbatas dan tidak diumbar kepada sembarang orang bukan berarti harus berbohong.
Kerahasiaan berbeda dengan kebohongan.
Tidak semua informasi tentang harta harus menjadi konsumsi publik.
Tidak semua orang perlu mengetahui berapa aset kita.
Tidak semua orang perlu mengetahui berapa penghasilan kita.
Tidak semua orang perlu mengetahui apa yang sedang kita bangun.
Ada informasi yang cukup diketahui oleh orang-orang yang memang memiliki hak dan kepentingan terhadap informasi tersebut.
Inilah pentingnya menjaga amanah informasi finansial.
Qowwamah Dimulai dari Tauhid
Pada akhirnya, persoalan Qowwamah kembali kepada persoalan yang lebih fundamental:
Tauhid.
Jika seorang laki-laki benar-benar memahami:
Allahu Ahad.
Allahu Shomad.
maka ia tidak akan menjadikan manusia sebagai sumber harga dirinya.
Ia tidak akan menjadikan harta sebagai tuhannya.
Ia tidak akan menjadikan status sosial sebagai ukuran kemuliaannya.
Ia tidak akan menjadikan kekayaan sebagai satu-satunya sumber kepercayaan dirinya.
Kemudian tauhid itu diterjemahkan dalam:
إِيَّاكَ نَعْبُدُ
Hanya kepada-Mu kami beribadah.
Dan:
وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
Hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.
Inilah Qowwamah berbasis tauhid.
Ia bekerja karena Allah.
Ia mencari harta karena Allah.
Ia memimpin karena Allah.
Ia melindungi keluarganya karena Allah.
Ia membangun kapasitas karena Allah.
Ia berikhtiar dengan seluruh kekuatannya, tetapi hatinya tidak pernah bergeser dari Allah.
Letakkan Ikhtiar dalam Bingkai Tawakkal
Maka jawabannya menjadi jelas.
Miskin harta tidak otomatis membuat seorang suami kehilangan Qowwamah.
Tetapi seorang suami harus jujur mengevaluasi dirinya.
Apakah ia hanya miskin harta?
Ataukah ia juga miskin ilmu?
Miskin keberanian?
Miskin tanggung jawab?
Miskin visi?
Miskin kemampuan?
Miskin daya juang?
Jika hanya hartanya yang terbatas tetapi iman, ilmu, konsistensi, tanggung jawab, ikhtiar, dan daya kepemimpinannya terus tumbuh, maka jangan merasa hina.
Namun jika kemiskinan harta dijadikan alasan untuk tidak bertumbuh, tidak bekerja, tidak belajar, dan tidak membangun kemampuan, maka persoalannya bukan lagi sekadar miskin harta.
Itulah miskin daya.
Dan seorang Qowwam tidak boleh puas menjadi laki-laki yang hanya mempunyai doa, tetapi tidak mempunyai daya untuk mengusahakan sebab-sebab yang halal.
Karena itu:
Berdoalah dengan total.
Berikhtiarlah dengan total.
Bertawakkallah dengan total.
Tetapi jangan pernah menggantungkan hati kepada hasil ikhtiar.
Sebab:
Ikhtiar adalah wilayah kewajiban kita.
Hasil adalah wilayah ketetapan Allah.
Ketika seorang laki-laki mampu meletakkan ikhtiar di dalam bingkai tawakkal, ia sedang membangun bukan hanya kekayaan, tetapi juga karakter Qowwamah.
Bukan sekadar menjadi laki-laki yang punya harta.
Tetapi menjadi laki-laki yang mampu:
- Mengelola harta
- Mengelola diri
- Memimpin keluarga
- Mengambil tanggung jawab
- Terus bertumbuh
- Tetap bergantung hanya kepada Allah
Kesimpulan: Suami Miskin Harta Tetap Bisa Memiliki Qowwamah Tinggi
Apakah suami miskin harta bisa tetap memiliki Qowwamah tinggi?
Bisa.
Keterbatasan harta tidak otomatis menghilangkan Qowwamah seorang suami.
Namun, keterbatasan harta juga tidak boleh dijadikan alasan untuk berhenti berikhtiar.
Seorang suami Qowwam boleh hidup sederhana, tetapi harus tetap kaya dalam:
iman, ilmu, tanggung jawab, keberanian, visi, konsistensi, daya juang, dan kemampuan memimpin.
Harta tetap penting karena merupakan salah satu instrumen untuk menjalankan amanah.
Tetapi harta bukan sumber utama harga diri seorang laki-laki.
Maka jangan hanya bertanya:
“Seberapa banyak harta yang saya miliki?”
Tanyakan juga:
“Seberapa besar daya yang saya bangun dalam diri saya?”
Karena bisa jadi seorang lelaki belum kaya hari ini, tetapi ia sedang membangun kapasitas yang suatu hari akan membuatnya mampu mengelola amanah yang jauh lebih besar.
“Jangan hanya membangun harta. Bangunlah manusia yang memiliki harta.”
Berdoa dengan total.
Berikhtiar dengan total.
Bertawakkal dengan total.
Dan jangan pernah menggantungkan hati kepada hasil ikhtiar.
Barokallah fiikum.
FAQ: Qowwamah Suami dan Kondisi Finansial
Apakah suami yang miskin harta bisa memiliki Qowwamah yang tinggi?
Bisa. Keterbatasan harta tidak otomatis menghilangkan Qowwamah. Qowwamah membutuhkan iman, tanggung jawab, kemampuan memimpin, keberanian, keteguhan jiwa, dan kemampuan menjalankan amanah. Namun, seorang suami tetap perlu berikhtiar membangun kemampuan finansialnya.
Apakah harta penting bagi Qowwamah?
Harta tetap penting sebagai salah satu instrumen untuk menjalankan amanah seorang suami. Namun, banyaknya harta tidak otomatis menentukan tinggi rendahnya Qowwamah. Yang lebih penting adalah kemampuan seorang suami menggunakan berbagai sebab yang Allah berikan secara bertanggung jawab.
Apa yang dimaksud dengan MOKONDO?
Dalam konteks artikel ini, MOKONDO merupakan singkatan dari Modal Konsisten dan Do’a. Semangat ini menekankan pentingnya konsistensi dan doa, tetapi tidak boleh dijadikan alasan untuk berhenti bekerja, belajar, dan membangun kapasitas diri.
Apakah tawakkal berarti cukup berdoa tanpa berusaha?
Tidak. Tawakkal bukan pengganti ikhtiar. Seorang suami tetap perlu berusaha menggunakan sebab-sebab yang halal, sementara hatinya tetap bergantung kepada Allah dan menerima bahwa hasil akhir berada dalam ketetapan-Nya.
Apa yang dimaksud dengan “miskin daya”?
“Miskin daya” dalam konteks artikel ini menggambarkan keadaan ketika keterbatasan harta disertai dengan minimnya ikhtiar, visi, ilmu, keberanian, kemampuan, tanggung jawab, dan daya juang untuk bertumbuh.
Penutup
Seorang laki-laki tidak harus menunggu kaya untuk mulai menjadi Qowwam.
Tetapi ia harus terus membangun dirinya agar semakin mampu memikul amanah.
Boleh belum kaya.
Boleh hidup sederhana.
Tetapi jangan berhenti bertumbuh.
Karena Qowwamah bukan hanya tentang apa yang ada di rekening.
Qowwamah juga tentang siapa diri kita ketika memegang amanah.
Bangun hartanya.
Bangun manusianya.
Bangun daya juangnya.
Perkuat tauhidnya.
Maksimalkan ikhtiarnya.
Dan gantungkan hatinya hanya kepada Allah.
Barokallah fiikum.