HomeBlogPolitikPANCASILA SAKTI MILIK UMMAT ISLAM

PANCASILA SAKTI MILIK UMMAT ISLAM

PANCASILA SAKTI MILIK UMMAT ISLAM

✍️ Oleh KH. Hafidin, S.Ag | 0812-8927-7201


🔥 Pendahuluan: Warisan Langit di Tengah Zaman Mulkan Jabariyah

Pancasila bukan hasil kompromi politik, melainkan buah ijtihad ulama di zaman penuh tekanan — fase yang oleh Rasulullah ﷺ disebut sebagai Mulkan Jabariyah, masa kekuasaan yang memaksa.

Namun, di tengah keterpaksaan itulah, para ulama Indonesia membuktikan kebesaran ilmunya: mereka tidak menentang zaman, tapi menundukkannya dengan hikmah.

Ketika sebagian umat Islam di dunia kehilangan arah karena terpecah oleh kolonialisme dan modernisme Barat, ulama Nusantara justru melahirkan karya peradaban besar bernama PANCASILA — sistem dasar negara yang menampung nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, keadilan, dan persaudaraan universal, sebagaimana digariskan dalam maqāṣid al-syarī‘ah.


📜 Pancasila: Ijtihad Ulama di Masa Krisis

Sejarah mencatat, di balik kelahiran Pancasila berdiri gagasan dan kontribusi tokoh-tokoh Islam yang berpikir jauh melampaui zamannya.
Sebut saja KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahid Hasyim, H. Agus Salim, Mohammad Natsir, Ki Bagus Hadikusumo, hingga Abikusno Tjokrosujoso.

Mereka semua bukan sekadar tokoh politik, melainkan ulama mujtahid yang menimbang dengan tiga timbangan utama:

1️⃣ Dalil Naqli — bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah.
2️⃣ Dalil Aqli — berdasarkan rasionalitas dan maslahat kebangsaan.
3️⃣ Dalil Waqi’ — realitas sosial politik umat di tengah kolonialisme dan tekanan ideologi asing.

Mereka tidak sedang menjauh dari Islam, justru mengislamkan dasar negara dengan cara paling cerdas: mengamankan nilai tauhid dalam rumusan yang bisa diterima oleh semua elemen bangsa.


🧭 Pancasila dalam Bingkai Maqāṣid al-Syarī‘ah

Setiap sila dalam Pancasila sejatinya mencerminkan lima maqāṣid utama syariat Islam:

Sila PancasilaNilai Islam yang TerkandungTujuan Syariat (Maqāṣid)
Ketuhanan Yang Maha EsaTauhid, Uluhiyyah, RububiyyahHifzh al-Dīn (Menjaga Agama)
Kemanusiaan yang Adil dan BeradabAkhlak, Ihsan, Ukhuwah InsaniyyahHifzh al-Nafs (Menjaga Jiwa)
Persatuan IndonesiaUkhuwah Wathaniyyah & IslamiyyahHifzh al-‘Aql & al-Nasl (Menjaga Akal & Keturunan)
Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmah Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/PerwakilanSyura, Amanah, Keadilan SosialHifzh al-Mal (Menjaga Harta & Amanah Publik)
Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat IndonesiaAl-‘Adl, Al-Qisth, Al-IhsanKesempurnaan Maqāṣid al-Syarī‘ah

Dengan demikian, Pancasila bukan sekularisme terselubung, melainkan ijtihad syar’i dalam konteks kenegaraan modern.
Ia menjadi wadah lahiriah bagi ruh Islam untuk tetap hidup dan bekerja di ruang publik.


⚔️ Pancasila: Benteng dari Tafsir yang Menyimpang

Ancaman terbesar terhadap Pancasila bukan datang dari luar, melainkan dari dalam: penafsiran yang salah dan penyimpangan dari niat asli para pendirinya.

Ada yang mencoba menafsirkan Pancasila sebagai sekularisme; ada pula yang ingin menggantinya dengan ideologi impor yang tidak berakar pada tanah iman bangsa ini.

Padahal, para ulama telah menanamkan ruhnya dengan jelas:

Pancasila harus menjadi wadah untuk menegakkan nilai-nilai Ketuhanan, bukan menggantinya.
KH. Wahid Hasyim, 1945

Maka, menjaga Pancasila berarti menjaga warisan ulama dan amanah Rasulullah ﷺ, sebagaimana sabda beliau:

Al-‘Ulamā’ waratsatul anbiyā’.
“Ulama adalah pewaris para nabi.” (HR. Tirmidzi)


🧠 Santri, Garda Terdepan Penjaga Pancasila

Tugas menjaga Pancasila bukan tugas politisi, melainkan tugas ideologis dan spiritual para santri.
Santri harus memahami sejarah Pancasila bukan dari buku negara, tapi dari kitab perjuangan ulama.

Karena di dalam setiap sila terdapat cahaya tauhid, hikmah syura, dan napas jihad fi sabilillah.

Jika santri abai, maka ideologi asing akan menafsirkan ulang Pancasila dengan logika sekular, liberal, bahkan materialistik — mematikan ruh Islam yang terkandung di dalamnya.


🌄 Menuju Indonesia Emas 2045: Fase Fath dan Tanfidz

Kita sedang menuju fase baru peradaban: Indonesia Emas 2045.
Namun, kemasan emas itu akan kosong jika ruh Pancasila dibiarkan kering dari nilai-nilai Ilahiyyah.

Pancasila harus kembali kepada fitrahnya:

  • Menjadi kompas spiritual bagi pembangunan bangsa.
  • Menjadi bingkai akhlak sosial dalam ekonomi, politik, dan budaya.
  • Menjadi narasi besar yang mempersatukan ulama, umara, dan umat dalam satu visi: Baldatun Ṭayyibatun wa Rabbun Ghafūr.

🌺 Penutup

Pancasila bukan milik pemerintah.
Bukan milik partai.
Pancasila adalah milik umat Islam, milik santri, milik para mujahid ilmu dan amal.

Karena dari rahim Islam-lah ia dilahirkan, dari tangan ulama-lah ia dirawat, dan dari doa para pejuang-lah ia disucikan.

Menjaga Pancasila berarti menjaga amanah ulama.
Menghidupkan Pancasila berarti menghidupkan cita-cita Islam di bumi Nusantara.
Dan menegakkan Pancasila berarti menegakkan maqāṣid al-syarī‘ah dalam bingkai kebangsaan.

Inilah Pancasila Sakti:
Warisan Islam yang hidup, berdarah, dan berdenyut di jantung Indonesia.

بارك الله فيكم.

Barokallah fiikum
Coach Hafidin – Sebagai Panglima Lapangan


Baca Juga: