HomeBlogPoligamiSultan Tapi Sial (Bagian 3): Suami yang Dipenjara Satu Istri

Sultan Tapi Sial (Bagian 3): Suami yang Dipenjara Satu Istri

Sultan Tapi Sial (Bagian 3): Suami yang Dipenjara Satu Istri

Coach Hafidin | 0812-8927-8201

Ketika Fitrah Lelaki Dibungkam oleh Cinta yang Salah Arah


⚖️ 1. Realita: Banyak Suami yang Tak Lagi Merdeka

Saya menyaksikan banyak suami yang sebenarnya sedang dipenjara oleh satu istri.
Bukan dalam arti fisik — tapi dalam makna yang lebih halus dan tragis: fitrahnya terkekang, pikirannya terjajah, dan hasratnya terpasung.

Mereka hidup bersama istri, tapi kehilangan jiwa kepemimpinan.
Mereka berjuang mati-matian untuk menafkahi, tapi takut membuat keputusan.
Mereka bicara tentang cinta, tapi tak lagi memiliki gairah.
Pendeknya, mereka hidup dalam rumah tangga yang nyaman di luar, tapi hampa di dalam.

Lebih menyedihkan lagi, banyak dari mereka justru bangga menyebut dirinya “suami setia”, padahal yang mereka maksud setia hanyalah ketidakmampuan untuk memimpin dan ketakutan untuk menjadi lelaki utuh.
Setia — tapi lemah.
Patuh — tapi kehilangan arah.
Lembut — tapi tak lagi berdaya.


💔 2. Akar Masalah: Cinta yang Mengubur Kepemimpinan

Fenomena ini muncul karena kesalahan besar dalam memahami cinta dan pernikahan.
Cinta dianggap harus selalu romantis, lembut, tunduk pada perasaan istri, dan menomorsatukan kebahagiaan istri di atas segalanya.

Padahal cinta sejati dalam Islam bukan tunduk pada pasangan, tapi tunduk kepada wahyu.
Seorang suami bukan hanya pemberi kasih sayang, tapi juga pembawa aturan.
Ia adalah qowwam — pemimpin, penuntun, pelindung, dan penjaga keseimbangan rumah tangga.

Begitu cinta disalahartikan menjadi sistem tunduk pada kenyamanan istri, maka suami mulai kehilangan otoritas spiritualnya.
Ia tak lagi memimpin, tapi mencari izin untuk memimpin.
Ia tak lagi menuntun, tapi menunggu suasana hati istri.
Ia tak lagi menjadi imam, tapi hanya pendamping emosional.

Dan di situlah penjara dimulai.
Penjara yang lembut.
Tanpa jeruji besi.
Tapi membunuh kelelakian pelan-pelan dari dalam.


📖 3. Analisis Qowwamah: Suami Bukan Boneka Emosi

Allah berfirman:

“Ar-rijaalu qowwamuna ‘alan-nisaa…”
“Laki-laki itu pemimpin bagi perempuan…” (QS. An-Nisa: 34)

Ayat ini bukan hanya perintah sosial, tapi juga hukum fitrah.
Ketika seorang suami kehilangan posisi qowwamah, maka keseimbangan rumah tangga rusak.
Istri kehilangan rasa aman. Anak kehilangan figur ayah. Dan suami kehilangan dirinya sendiri.

Suami yang dipenjara satu istri sesungguhnya bukan tidak bisa memimpin — ia hanya belum berani menegakkan fitrahnya sendiri.
Ia takut dianggap egois, takut dituduh patriarki, takut kehilangan cinta, hingga akhirnya kehilangan segalanya: rasa hormat, rasa percaya, dan rasa berdaya.


🔥 4. Transformasi Diri: Bebaskan Dirimu, Wahai Lelaki

Lelaki yang ingin keluar dari penjara ini harus memulai revolusi dari dalam.
Bukan dengan melawan istri, tapi dengan menegakkan qowwamah dalam dirinya sendiri.

Mulailah dengan 4 langkah:

1️⃣ Sadari bahwa kepemimpinan adalah amanah, bukan pilihan.
Jika engkau suami, engkau wajib memimpin. Tidak memimpin = melanggar fitrah.

2️⃣ Kembalikan kekuatan spiritualmu.
Bukan lewat otot, tapi lewat ketaatan kepada Allah dan keberanian untuk tegas.

3️⃣ Bangun otoritas dengan kasih, bukan ketakutan.
Pemimpin yang kuat bukan yang keras, tapi yang jelas.

4️⃣ Lepas dari mental pengemis cinta.
Jangan hidup dari validasi istri. Jadilah sumber cinta, bukan peminta cinta.

Ketika engkau berdiri tegak sebagai qowwam, engkau akan menemukan bahwa rasa hormat istri tumbuh bukan karena takut padamu, tapi karena jiwanya kembali menemukan tempat untuk bersandar.


⚔️ 5. Seruan Akhir: Jangan Mau Hidup Sebagai Tahanan Domestik

Banyak lelaki yang sukses di luar rumah — memimpin bisnis, perusahaan, bahkan lembaga — tapi gagal memimpin keluarganya sendiri.
Mereka disegani di ruang publik, tapi dipermalukan di ruang privat.
Mereka bisa mengatur 500 karyawan, tapi tak bisa mengatur 1 istri.

Wahai lelaki, sadarlah.
Engkau bukan boneka cinta, bukan budak emosi, dan bukan tawanan perasaan.
Engkau adalah qowwam, ra’is, dan imam.

Dan selama engkau masih hidup sebagai suami yang dipenjara satu istri, engkau akan terus menjadi Sultan yang Sial — kaya harta, tapi miskin jiwa.

Barokallah fiikum
Pelatih Hafidin – Pendiri Poligami Pendampingan Swasta


Baca Juga: