HomeBlogPoligamiSultan Tapi Sial #7

Sultan Tapi Sial #7

Sultan Tapi Sial #7

oleh Coach Hafidin

β€” Anak-Anaknya Sukses, Tapi Ayahnya Hilang Wibawa

🩸 Catatan Sadis untuk Suami yang Menukar Kepemimpinan dengan Kasih Sayang Semu

πŸ•― Inilah paradoks lelaki modern:
anak-anaknya sukses, pendidikannya tinggi, kariernya bagus β€”
namun mereka tak lagi menaruh hormat pada ayahnya.

Mereka menyebut β€œayah” dengan sopan, tapi tanpa getar wibawa.
Mereka mendengarkan, tapi tidak mengindahkan.
Mereka tahu ayahnya kaya, tapi tidak meneladaninya.
Karena di rumah itu, ayah hanya simbol β€” bukan pemimpin.

πŸ’Ό Dahulu, suami ini begitu bersemangat mencari rezeki,
agar istri dan anak-anaknya hidup nyaman.
Ia pikir tugasnya selesai ketika kebutuhan dipenuhi.
Ia lupa bahwa tanggung jawabnya bukan hanya memberi makan,
tetapi menegakkan qowwamah.
Dan qowwamah bukan tentang uang, tapi tentang arah hidup.

Anak-anak tumbuh melihat ayahnya diam saat istri berbicara kasar.
Mereka melihat ayahnya tunduk saat ibu memutuskan segalanya.
Mereka belajar bahwa ayah bisa dibantah,
dan keputusan ayah bisa diubah dengan sedikit drama.

πŸ‘¦ Maka jangan heran jika anak lelaki tumbuh lemah dan bingung,
tak tahu bagaimana menjadi pemimpin.
Dan anak perempuan tumbuh dominan,
tidak mudah tunduk pada suaminya kelak.
Karena pola itu telah mereka serap sejak kecil β€”
ayah tunduk, ibu berkuasa.

Padahal, wibawa ayah adalah roh pendidikan keluarga.
Jika wibawa itu hilang,
rumah kehilangan gravitasi spiritualnya.
Segala hal akan melayang: nilai, disiplin, rasa hormat, bahkan doa.

Rasulullah ο·Ί bersabda:
β€œSetiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Namun bagaimana seorang ayah akan dimintai pertanggungjawaban,
jika sejak awal ia tidak pernah benar-benar memimpin?

🌍 Banyak anak-anak sukses di dunia,
namun kehilangan arah rohani karena ayahnya tak lagi menjadi imam kehidupan.
Mereka berilmu tapi tidak beradab,
berprestasi tapi hampa makna,
berbakti tapi tidak meneladani.

Ayahnya bangga karena anaknya hebat,
padahal yang hebat hanyalah sistem dunia,
bukan hasil pendidikan ayahnya.
Ayah itu telah kehilangan peran β€”
bukan karena tak mampu,
tapi karena tak berani memimpin.

✨ Wibawa ayah bukan lahir dari kekerasan,
melainkan dari keberanian mengambil arah, menegakkan prinsip,
dan menjadi teladan yang istiqamah di mata anak-anaknya.

Maka wahai para suami β€”
jangan sibuk membangun kesuksesan anak,
jika dirimu sendiri kehilangan kehormatan di depan mereka.
Karena saat engkau kehilangan wibawa,
engkau telah kehilangan warisan teragung: jiwa kepemimpinan.

🏰 Bangunlah kembali tahta qowwamah di rumahmu,
sebelum generasimu tumbuh tanpa kompas kepemimpinan.
Sebab anak-anakmu bisa hidup tanpa harta,
namun mereka akan hancur tanpa arah.

Barokallah fiikum
Pelatih Hafidin – Pendiri Poligami Pendampingan Swasta


Baca Juga:

https://coachhafidin.com/poligami/sultan-tapi-sial-6coach-hafidin-0812-8927-8201sultan-tapi-sial-6