
Coach Hafidin | 0812-8927-8201
β Rumah Tanpa Qowwam, Surga Tanpa Pintu
π Catatan Sadis untuk Suami yang Hilang Jalan Pulang
π Rumah tangga tanpa Qowwam itu seperti tubuh tanpa tulang.
Bisa tampak hidup, tapi tak punya bentuk, tak punya arah, dan tak bisa berdiri tegak.
Dan yang lebih tragis: rumah seperti itu tidak punya pintu ke surga.
Banyak suami hari ini percaya bahwa surga bisa diraih dengan kesabaran pasif β
dengan menahan diri dari amarah istri,
dengan diam saat dipermalukan,
dengan membiarkan istri memimpin atas nama βdamai.β
Padahal, itu bukan sabar β itu pasrah yang salah arah.
πΏ Surga bukan untuk lelaki yang takut berjuang.
Surga tidak terbuka untuk suami yang membiarkan fitrahnya dipadamkan.
Surga hanya terbuka untuk lelaki yang menegakkan ketaatan dengan tanggung jawab kepemimpinan.
βDan para lelaki itu adalah qawwΔm atas para wanita, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain, dan karena mereka telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.β
(QS. An-Nisa: 34)
Ayat ini bukan sekadar perintah memimpin.
Ini mandat ilahi β sekaligus kunci surga bagi lelaki.
Ketika seorang suami berani menegakkan qowwamah,
ia sedang membuka pintu surga untuk dirinya dan keluarganya.
Namun ketika ia membiarkan istri menjadi pengarah utama,
ia justru menutup pintu itu dengan tangannya sendiri.
Sebab kepemimpinan yang seharusnya membawa seluruh rumah menuju ridha Allah,
malah bergeser menjadi drama emosional dan tarik-menarik ego duniawi.
π Rumah tanpa Qowwam adalah rumah tanpa kompas tauhid.
Istri kehilangan arah ibadah, anak kehilangan figur,
dan suami kehilangan kemuliaan.
Mereka berjalan, tapi tak menuju Allah.
Mereka sibuk, tapi tak berkah.
Mereka saling mencintai, tapi tanpa makna ubudiyah.
π‘ Banyak lelaki salah paham:
mereka kira membahagiakan istri adalah tujuan utama rumah tangga.
Padahal bukan.
Tujuan rumah tangga adalah mendirikan dien di dalam rumah.
Dan kebahagiaan hanyalah buah dari ketaatan, bukan sebaliknya.
π Maka, jika rumahmu tanpa Qowwam,
itu artinya pintu surgamu masih terkunci.
Kuncinya bukan di tangan istrimu, bukan di tangan anakmu,
tapi di tanganmu sendiri β di genggaman kepemimpinan yang beriman.
πΊ Bangkitlah, wahai para lelaki.
Pimpinlah kembali rumahmu dengan iman yang hidup, bukan ego yang keras.
Tegakkan wibawa bukan dengan marah, tapi dengan arah.
Tegakkan cinta bukan dengan tunduk, tapi dengan tuntunan.
Karena hanya suami yang menegakkan dien di rumahnya,
yang akan dibukakan oleh Allah pintu surga-Nya β dari dalam rumahnya sendiri.
Barokallah fiikum
Pelatih Hafidin β Pendiri Poligami Pendampingan Swasta
Baca Juga: