
Coach Hafidin | 0812-8927-8201
POTRET KEGAGALAN TAUHID DALAM KEPEMIMPINAN RUMAH TANGGA
Pendahuluan: Masalahnya Bukan Poligami, Tapi Tauhid
Banyak orang keliru membaca masalah poligami.
Mereka mengira problemnya ada pada istri pertama yang sedih, atau pada poligami itu sendiri.
Padahal, masalah paling dalam dan paling mendasar adalah TAUHID SUAMI.
Kalimat:
“Saya batal poligami karena tidak tega melihat istri pertama sedih”
sekilas terdengar mulia, manusiawi, bahkan religius.
Namun jika dibedah dengan pisau tauhid, kalimat ini justru membuka aib besar:
👉 si suami belum bertauhid secara total
👉 masih menjadikan rasa sebagai ilah (tuhan kecil)
Tauhid Total: Siapa yang Menjadi Hakim?
Tauhid bukan hanya:
- mengucap lā ilāha illallāh
- shalat, puasa, dan zikir
- merasa cinta dan kasihan
Tauhid adalah:
Siapa yang menjadi penentu keputusan tertinggi dalam hidupmu.
📖 QS. Yusuf: 40
“Inil hukmu illā lillāh”
Tidak ada hukum (keputusan tertinggi) kecuali milik Allah.
Maka pertanyaannya sederhana tapi mematikan:
Ketika suami membatalkan poligami,
- apakah karena Allah melarang?
- atau karena rasa tidak tega?
Jika jawabannya yang kedua, maka:
➡️ rasa telah naik tahta
➡️ wahyu tersingkir
Inilah syirik kepemimpinan, meski pelakunya rajin ibadah.
Standar Qur’ani vs Standar Rasa
Standar Qur’ani
Allah menetapkan parameter poligami sangat jelas, tanpa abu-abu:
📖 QS. An-Nisa: 3
“…nikahilah wanita yang kamu sukai dua, tiga, atau empat. Jika kamu takut tidak adil, maka satu.”
Perhatikan:
Allah tidak menyebut:
- “jika istri sedih”
- “jika istri tidak rela”
- “jika suasana emosional berat”
Allah hanya menyebut:
- adil
- mampu
Inilah standar tauhid.
Standar Rasa
Standar rasa bekerja begini:
- istri sedih → suami goyah
- air mata → visi runtuh
- tekanan emosional → keputusan dibatalkan
Akibatnya:
- suami tidak memimpin
- suami dipimpin
- qiwamah runtuh
- rumah tangga kehilangan arah
📖 QS. Al-Baqarah: 216
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu baik bagimu.”
Ayat ini menampar keras siapa pun yang menjadikan perasaan sebagai hakim.
Hamba Allah vs Hamba Rasa
Hamba Allah
- tunduk pada wahyu
- emosinya ada, tapi diatur
- hatinya lembut, tapi kepemimpinannya tegas
- kasihan tidak mengalahkan kebenaran
Hamba Rasa
- takut membuat orang tidak nyaman
- menjadikan sedih sebagai veto
- hidupnya reaktif, bukan visioner
- mengira empati = kebenaran
📖 QS. Al-Jatsiyah: 23
“Apakah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?”
Rasa yang ditaati tanpa neraca wahyu = tuhan tandingan.
Kesalahan Fatal: Mengira Empati = Taqwa
Islam tidak anti empati.
Rasulullah ﷺ adalah manusia paling lembut.
Namun:
- Rasulullah ﷺ tidak membatalkan hukum karena air mata
- Tidak mengorbankan visi dakwah karena tekanan emosi
- Tidak menyerahkan kepemimpinan pada rasa kasihan
Empati dalam Islam:
- mendampingi, bukan menyerah
- menenangkan, bukan tunduk
- memimpin proses, bukan kabur dari amanah
Poligami sebagai Ujian Tauhid Lelaki
Poligami bukan ujian istri,
tapi ujian tauhid suami.
Ujian:
- apakah ia memimpin dengan wahyu
- atau menyerah pada tekanan rasa
- apakah ia merdeka
- atau masih menjadi budak emosi rumah tangga
Banyak lelaki shalih gugur di sini:
- lisannya tauhid
- hatinya goyah
- keputusannya dikendalikan rasa
Kesimpulan Ideologis (Doktrin Tauhid)
- Sedih adalah fitrah, bukan dalil
- Empati bukan hakim
- Keputusan harus tunduk pada wahyu
- Suami Qur’ani memimpin, bukan dipimpin
- Tauhid sejati diuji saat rasa berlawanan dengan kebenaran
Maka kalimat:
“Batal poligami karena tidak tega melihat istri sedih”
bukan bukti kemuliaan, melainkan alarm keras kegagalan tauhid kepemimpinan.
🕊️ Penutup: Kembali ke Tauhid, Bukan ke Rasa
Jika lelaki ingin menjadi:
- Suami Qowwam
- Suami Merdeka
- Pemimpin rumah tangga Qur’ani
maka ia harus berani berkata dalam hatinya:
“Aku mengasihi, tapi aku tidak menyembah rasa.”
“Aku lembut, tapi aku tunduk pada Allah.”
Inilah TAUHID TOTAL.
Selain itu, hanyalah perbudakan dengan nama yang lebih halus.
Barokallah fiikum
Coach Hafidin – Mentor Poligami Expert.
Baca Juga: