
Coach Hafidin | 0812-8927-8201
Tapi Gagal Mendidik Istri adalah Masalah Besar
Sebuah Koreksi Fundamental atas Cara Berpikir Suami Muslim
Pendahuluan: Kesalahan Fatal Cara Berpikir Lelaki
Di tengah maraknya diskursus poligami, banyak suami terjebak pada kesalahan berpikir yang sangat mendasar:
mereka menganggap berhasil atau gagalnya poligami sebagai tolok ukur kejantanannya.
Padahal, dalam pandangan Islam yang lurus dan logis, poligami bukan kewajiban, sedangkan mendidik istri adalah amanah yang tidak bisa ditawar.
Di sinilah muncul satu kaidah penting yang sering menyentak kesadaran:
Gagal poligami tidak masalah.
Tetapi suami gagal mendidik istrinya, itu pasti menjadi masalah.
Kalimat ini bukan slogan, melainkan rumus kepemimpinan rumah tangga.
1️⃣ Poligami: Pilihan Syariat, Bukan Tolok Ukur Keshalihan
Poligami adalah rukhshah (keringanan), bukan perintah mutlak.
Ia dibolehkan, disyariatkan, tetapi tidak diwajibkan.
Tidak ada satu ayat pun yang menyatakan:
“Siapa yang tidak berpoligami, maka imannya cacat.”
Bahkan:
- Banyak Nabi tidak berpoligami
- Banyak ulama besar monogami
- Banyak wali Allah tidak pernah menikah lebih dari satu
Maka secara logis dan syar’i:
- Gagal poligami ≠ gagal sebagai hamba
- Gagal poligami ≠ dosa
- Gagal poligami ≠ kehinaan
Seorang suami boleh:
- Berniat poligami
- Berusaha dengan cara yang halal
- Gagal karena kondisi, kesiapan, atau takdir
Dan itu bukan masalah prinsip.
2️⃣ Mendidik Istri: Amanah Fardhu dalam Qowwamah
Berbeda dengan poligami, mendidik istri adalah kewajiban syar’i yang melekat pada status suami sebagai qowwam.
Allah Ta’ala berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”
(QS. At-Tahrim: 6)
Ayat ini tidak membedakan:
- Monogami atau poligami
- Istri satu atau empat
- Kaya atau miskin
Setiap suami wajib memimpin, membimbing, dan mendidik keluarganya menuju keselamatan iman dan akhlak.
Maka kegagalan mendidik istri bukan persoalan pilihan,
melainkan kegagalan menjalankan kewajiban.
3️⃣ Kesalahan Umum: Menyempitkan Makna “Mendidik Istri”
Banyak suami keliru memahami makna mendidik istri.
Mendidik bukan:
- Menggurui
- Menghardik
- Mengontrol berlebihan
- Menuntut ketaatan tanpa keteladanan
Mendidik adalah:
- Menjadi contoh hidup nilai Islam
- Menjadi sumber ketenangan batin
- Menjadi penjaga arah dan batas
- Menjadi pemimpin yang diteladani, bukan ditakuti
Istri yang terdidik bukan istri yang:
- Selalu diam
- Selalu mengalah
- Tidak pernah berbeda pendapat
Tetapi istri yang:
- Imannya bertumbuh
- Akhlaknya membaik
- Emosinya lebih stabil
- Ketaatannya meningkat secara sadar
Jika bertahun-tahun menikah:
- Istri makin emosional
- Makin jauh dari nilai syariat
- Makin tidak percaya pada suami
- Makin gelisah dan memberontak
Maka problem utamanya hampir selalu:
suami gagal menjalankan fungsi qowwamah-nya.
4️⃣ Mengapa Gagal Mendidik Istri Lebih Berbahaya daripada Gagal Poligami?
Secara logika sistem keluarga:
1. Istri adalah pusat atmosfer rumah
- Rusak istri → rusak rumah
- Tenang istri → tenang keluarga
2. Istri adalah madrasah pertama anak
- Akhlak anak mengikuti ibunya
- Mental anak menyerap emosi ibunya
3. Istri adalah cermin kepemimpinan suami
- Istri yang liar emosinya sering lahir dari suami yang lemah kepemimpinannya
- Istri yang matang biasanya dibesarkan oleh suami yang matang
Gagal mendidik istri berarti:
- Anak kehilangan arah
- Rumah tangga penuh konflik laten
- Poligami (jika dipaksakan) hampir pasti hancur
- Suami kehilangan wibawa batin, meski tampak berkuasa lahir
Inilah sebabnya kegagalan ini bersifat sistemik, bukan personal.
5️⃣ Poligami Tanpa Keberhasilan Mendidik Istri: Bom Waktu
Seorang suami yang:
- Belum berhasil menenangkan satu istri
- Belum berhasil membangun kepercayaan
- Belum berhasil menjadi figur rujukan batin
Lalu nekat poligami, sejatinya sedang:
memperbanyak masalah dengan kapasitas diri yang sama.
Ini bukan keberanian,
melainkan ketidakjujuran pada kapasitas kepemimpinan sendiri.
Poligami hanya aman jika:
- Qowwamah sudah mapan
- Istri pertama sudah terdidik dengan baik
- Suami sudah stabil emosi dan visi
Tanpa itu, poligami berubah dari syariat menjadi fitnah pribadi dan keluarga.
6️⃣ Prinsip Inti: Ukuran Keberhasilan Suami
Ukuran keberhasilan suami bukan:
- Jumlah istri
- Legalitas menikah lagi
- Pengakuan publik
Tetapi:
- Apakah istrinya tumbuh menjadi lebih shalihah
- Apakah rumahnya makin tenang
- Apakah anak-anaknya mendapat teladan
- Apakah ia memimpin dengan iman, bukan ego
Maka prinsip besarnya dapat dirumuskan:
Poligami itu pilihan hidup.
Qowwamah itu amanah hidup.
Pilihan boleh gagal,
amanah tidak boleh diabaikan.
Barokallah fiikum
Coach Hafidin – Mentor Poligami Expert.
Baca Juga: