
Coach Hafidin | 0812-8927-8201
Fondasi Rumah Tangga Islam yang Tidak Bisa Ditawar
“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…”
(QS. At-Tahrīm: 6)
Ayat ini bukan ayat motivasi.
Bukan ayat romantika rumah tangga.
Dan bukan ayat kompromi perasaan.
Ini adalah ayat komando kepemimpinan iman.
Allah tidak berkata: “buatlah keluargamu bahagia”,
tetapi: “jagalah mereka dari neraka.”
Dan menjaga dari neraka meniscayakan kepemimpinan, bukan netralitas.
1️⃣ Menjaga Keluarga = Memimpin dengan Perintah dan Pendidikan
Ibnu Katsīr رحمه الله menafsirkan ayat ini dengan bahasa yang sangat tegas dan maskulin secara syar‘i. Dalam Tafsīr al-Qur’ān al-‘Azhīm beliau menulis:
أي: مُروا أنفسكم وأهليكم بطاعة الله، وانهوهم عن معصية الله، وأدِّبوهم وأقيموهم على أمر الله
Artinya:
“Perintahkanlah dirimu dan keluargamu untuk taat kepada Allah, larang mereka dari maksiat kepada Allah, didik mereka, dan tegakkan mereka di atas perintah Allah.”
Perhatikan diksi para ulama:
- Perintah
- Larangan
- Pendidikan
- Penegakan
Ini bahasa kepemimpinan, bukan bahasa diskusi setara tanpa arah.
Riwayat dari Ibnu ‘Abbās melalui Ali bin Abi Thalhah, sebagaimana dicatat Imam ath-Thabari, semakin menegaskan:
اعملوا بطاعة الله، واتقوا معاصي الله، وأمروا أهليكم بالذكر ينجيكم الله من النار
“Amalkan ketaatan kepada Allah, jauhi maksiat, dan perintahkan keluargamu dengan ketaatan, niscaya Allah menyelamatkan kalian dari neraka.”
Maka jelas:
Menjaga keluarga bukan dengan membiarkan, tetapi dengan memimpin iman secara aktif.
2️⃣ Wanita Shalihah Bukan Wanita Dominan, Tapi Wanita Qānitat
Allah berfirman:
فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ
(QS. An-Nisā’: 34)
Wanita shalihah bukan didefinisikan oleh kecerdasan, penghasilan, atau kemandirian,
tetapi oleh satu kata kunci: qānitat.
Imam al-Qurṭubī رحمه الله menjelaskan:
أي مطيعات لله تعالى، وقيل: لأزواجهن فيما أوجب الله عليهن
Artinya:
“Yaitu wanita yang taat kepada Allah Ta‘ala, dan dikatakan pula: taat kepada suami mereka dalam perkara yang Allah wajibkan atas mereka.”
Di sini penting dicatat secara ilmiah:
- Ketaatan kepada suami bukan sumber utama
- Ia adalah cabang dari ketaatan kepada Allah
Karena itu, menolak kepemimpinan suami bukan sekadar konflik relasi,
tetapi indikasi masalah tauhid.
Syaikh ‘Abdurrahman as-Sa‘dī رحمه الله menguatkan struktur ini:
القانتات أي المطيعات لله تعالى، المحافظات على حقوق أزواجهن
“Qānitat adalah wanita yang taat kepada Allah Ta‘ala dan menjaga hak-hak suami mereka.”
Urutannya sangat jelas:
- Tauhid dan ketaatan kepada Allah
- Menjaga hak suami
Inilah struktur ilahiah rumah tangga Islam.
3️⃣ Taslīm: Akar dari Segala Kepatuhan
Semua konflik rumah tangga syar‘i berakar pada satu masalah utama:
taslīm yang belum selesai.
Imam Ibnul Qayyim رحمه الله berkata dalam Madarij as-Sālikīn:
حقيقة التسليم: انقياد القلب والجوارح لحكم الله ورسوله من غير معارضة ولا تردد
Artinya:
“Hakikat taslīm adalah tunduknya hati dan anggota badan kepada hukum Allah dan Rasul-Nya tanpa penolakan dan tanpa keraguan.”
Selama masih ada kalimat:
- “tapi menurutku…”
- “aku belum siap…”
- “ini terlalu berat bagiku…”
maka taslīm masih cacat.
Dan rumah tangga tidak akan pernah stabil di atas taslīm yang setengah-setengah.
4️⃣ ‘Ābid Sejati dan Islam Kaffah
Imam Hasan al-Bashri رحمه الله membedakan kualitas ibadah manusia:
إن قوماً عبدوا الله على الرغبة فتلك عبادة التجار، وإن قوماً عبدوه على الرهبة فتلك عبادة العبيد، وإن قوماً عبدوه على الحب فتلك عبادة الأحرار
Artinya:
“Ada kaum yang beribadah karena berharap balasan, itu ibadah pedagang. Ada yang beribadah karena takut, itu ibadah budak. Dan ada yang beribadah karena cinta, itulah ibadah orang-orang merdeka.”
Wanita dan laki-laki yang sudah sampai pada ibadah cinta,
tidak lagi bertanya: “aku untung apa?”
tetapi bertanya: “apa yang Allah ridai?”
Dari sinilah Islam kaffah dalam rumah tangga lahir.
5️⃣ Tasbīḥ: Tauhid dalam Skala Hati
Imam al-Ghazālī رحمه الله menyingkap makna tasbih yang sering dilupakan:
التسبيح تنزيه الله عن أن يكون في القلب غيره مقدماً عليه
Artinya:
“Tasbih adalah mensucikan Allah dari adanya sesuatu di dalam hati yang didahulukan atas-Nya.”
Maka jika:
- perasaan didahulukan dari syariat,
- pasangan didahulukan dari perintah Allah,
- kenyamanan didahulukan dari kebenaran,
maka tasbih belum hakiki, dan tauhid masih teoritis.
6️⃣ Qowwamah: Tanggung Jawab Pendidikan, Bukan Otoritarianisme
Imam ath-Thabari رحمه الله menutup celah salah paham tentang qowwamah:
الرجال قوّامون على النساء أي قائمون بتأديبهن والأخذ على أيديهن فيما يجب عليهن لله
Artinya:
“Laki-laki adalah qowwam atas perempuan, yaitu berdiri untuk mendidik mereka dan menuntun mereka dalam kewajiban kepada Allah.”
Qowwamah bukan hak untuk menindas,
tetapi kewajiban untuk menegakkan iman dalam keluarga.
🧭 PENUTUP: RUMAH TANGGA TEGAK DI ATAS TAUHID
Seluruh turats ulama menyatu dalam satu garis lurus:
Tauhid melahirkan taslīm
Taslīm melahirkan qunūt
Qunūt melahirkan ‘ubūdiyah kaffah
Dan dari sanalah sakinah lahir — bukan sebaliknya
Maka benar kesimpulan para ulama:
Tidak ada rumah tangga yang rusak karena syariat,
tetapi karena jiwa yang belum tunduk kepada syariat.
Barokallah fiikum
Coach Hafidin – Mentor Poligami Expert.
Baca Juga: