HomeBlogKeluarga3 TANDA SUAMI SUDAH GILA, TAPI MERASA PALING SADAR

3 TANDA SUAMI SUDAH GILA, TAPI MERASA PALING SADAR

3 TANDA SUAMI SUDAH GILA, TAPI MERASA PALING SADAR

Bahaya Belajar Tanpa Guru dan Mentoring Ruhani

Coach Hafidin | 0812-8927-8201
Qowwamah Leadership Mentor


“Kegilaan terbesar bukan kehilangan akal, tapi merasa paling waras padahal tersesat dalam pikiran sendiri.”

Hari ini, banyak suami bicara tentang kesadaran, spiritualitas, dan perubahan diri.
Namun semakin banyak bicara, semakin jauh dari makna.
Karena kesadaran tanpa bimbingan hanyalah kesombongan yang berseragam religius.


1️⃣ Merasa Sudah Berubah, Padahal Cuma Pindah Bentuk Ego

Inilah penyakit pertama: merasa sudah sadar.
Padahal yang berubah bukan ruhnya, tapi topengnya.

Dulu arogan dengan kemarahan, kini arogan dengan kelembutan.
Dulu sombong karena uang, sekarang sombong karena merasa “lebih spiritual.”
Dulu memerintah istri dengan keras, kini menuntut istri “lebih lembut” — tapi nada jiwanya masih sama: aku yang benar.

🌀 Inilah gila versi halus.
Perubahan tanpa bimbingan hanya memindahkan ego ke bentuk baru — dari ego kasar menjadi ego halus, tapi tetap ego.

Ibn ‘Athaillah berkata dalam al-Hikam:

“Di antara tanda seseorang berpaling dari Allah adalah sibuk memperbaiki diri dengan kekuatannya sendiri.”

Suami tanpa bimbingan akan sibuk mengoreksi istri, tapi lupa mengoreksi niatnya sendiri.
Akhirnya rumah tangganya tetap bising — hanya bungkusnya yang berubah jadi “islami.”


2️⃣ Merasa Tidak Butuh Mentor, Padahal Itulah Bukti Buta

Ciri kedua dari kegilaan spiritual adalah merasa cukup.

“Ngapain saya ikut mentoring? Saya sudah ngerti.”
“Kalau ikhlas harusnya gak usah diajarin.”
“Ilmu kan bisa langsung dari Allah.”

Kata-kata ini terdengar bijak, tapi sejatinya bisikan syetan yang berbalut kesalehan.

🌙 Rasulullah ﷺ — makhluk paling suci — masih dibimbing oleh Jibril setiap tahun dalam tilawah Al-Qur’an.
Kalau Nabi saja diawasi dan diajari, bagaimana mungkin kita merasa cukup?

Imam Malik berkata:

“Barang siapa belajar agama tanpa guru, maka syaithan menjadi gurunya.”

Suami yang menolak dibimbing bukan sedang kuat — tapi sedang buta pada kelemahan dirinya sendiri.


3️⃣ Sibuk Menasihati Istri, Tapi Tak Pernah Menasihati Jiwanya Sendiri

Ciri ketiga: suami yang pandai berbicara, tapi jarang berkaca.
Ia menceramahi istri dengan dalil, tapi gagap menghadapi dirinya sendiri.
Ia mengutip ayat, tapi lupa mengutip akhlak.
Ia bicara sabar, tapi tak sabar menghadapi istri yang diam dan menangis.

🔥 Ini bukan pemimpin, tapi pendakwah yang belum selesai didakwahi.
Suami seperti ini terjebak dalam labirin pikirannya sendiri —
menyangka dirinya Qowwam, padahal masih Qalqal: goyah dan gemetar di dalam.


🌿 Kesimpulan: Jalan Menuju Waras Adalah Dibimbing

Suami yang ingin sembuh dari kegilaan spiritual harus belajar tunduk pada bimbingan.
Karena tidak ada kesadaran sejati tanpa penyerahan diri.

Kita tidak bisa memperbaiki diri dengan pikiran yang sama yang dulu merusaknya.
Kita butuh pandangan luar — dari murabbi, mentor, atau pembimbing ruhani
yang mampu menunjukkan arah ketika hati tertutup kabut ego.

“Mentor bukan malaikat, tapi cahaya yang menuntunmu keluar dari gelap.”


🌸 Penutup: Sadar Itu Harus Didampingi

Berhentilah belajar sendiri.
Berhentilah bersembunyi di balik kata “proses.”
Jika prosesmu tidak membuat istrimu merasa aman, berarti itu bukan proses — tapi pembenaran.

Datanglah pada bimbingan.
Belajarlah dengan rendah hati.
Karena suami yang menolak dibimbing bukan sedang kuat —
tapi sedang perlahan kehilangan arah dan bangga di tengah kebingungan.

“Kesadaran tanpa bimbingan akan menjadikanmu tampak suci di luar, tapi busuk di dalam.”

Barokallah fiikum
Coach Hafidin – Mentor Poligami Expert.


Baca Juga: