
By Coach Hafidin | 0812-8927-8201
Bukti Bahwa Syariat Ini Lintas Zaman dan Penuh Keagungan
Nama Raden Adjeng Kartini harum sebagai ikon emansipasi perempuan Indonesia.
Ia dikenal sebagai sosok cerdas, kritis, dan berani bersuara melawan sistem feodal yang mengekang perempuan.
Namun, di balik semua perjuangan dan idealismenya, tersimpan satu bab penting yang jarang diangkat dalam narasi populer:
✨ Kartini adalah istri dalam poligami.
Ia adalah istri keempat dari Bupati Rembang, Raden Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat.
📌 Sebuah fakta sejarah yang tidak bisa dihapus, namun juga tidak boleh disalahpahami.
🙏 Awalnya Menolak, Tapi Kartini Tunduk karena Kesadaran Lebih Tinggi
Dalam surat-surat pribadinya kepada sahabatnya di Belanda, Kartini sempat mengungkapkan kritik terhadap poligami.
Ia merasa sistem tersebut seringkali menyakitkan perempuan.
Namun, ketika ayahnya meminta ia menikah dengan seorang pria beristri, ia memilih menerima.
Bukan karena kalah. Bukan karena pasrah. Tapi karena:
- 💗 Cinta dan hormat pada sang ayah
Kartini adalah anak shalihah yang memahami bahwa taat kepada orang tua adalah bentuk kebaikan yang besar. - 🎓 Visi dakwah melalui pernikahan
Ia menyampaikan satu syarat kepada calon suaminya:
“Aku ingin tetap mendirikan sekolah untuk perempuan.”
Dan suaminya menyanggupi.
Maka Kartini pun masuk ke dalam pernikahan itu dengan syarat perjuangan tetap hidup.
💡 Poligami Tidak Selalu Menindas — Bila Dijalani dengan Jiwa Besar dan Tujuan Suci
Apa yang terjadi pada Kartini membuktikan satu hal penting:
💬 Poligami bukan masalah sistem. Tapi masalah siapa yang menjalaninya.
Jika dijalankan dengan ego, memang akan menindas.
Tapi bila dijalankan dengan ilmu, cinta, tanggung jawab, dan ruh perjuangan,
maka poligami adalah bagian dari solusi peradaban.
🕊️ Poligami Bukan Tradisi, Tapi Syariat Ilahiyah yang Relevan Sepanjang Zaman
Fakta bahwa Kartini — ikon pencerahan perempuan Nusantara — hidup dalam poligami, menjadi penanda kuat bahwa:
✅ Poligami bukan budaya Arab semata
✅ Poligami bukan warisan patriarki buta
✅ Poligami adalah bagian dari syariat Islam yang agung dan fleksibel, menyesuaikan ruh zaman, selama dijalankan dengan adil dan tanggung jawab.
📣 Kalau pun Kartini yang berpikir maju bisa hidup dalam sistem itu dan tetap bahagia,
mengapa hari ini banyak yang menolak tanpa pemahaman yang utuh?
🧭 Inilah yang Diperjuangkan dalam Program Private Mentoring Poligami (PMP)
Coach Hafidin, seorang mentor berpengalaman yang menjalani poligami selama lebih dari 25 tahun
dengan 4 istri dan 26 anak, membangun Program Private Mentoring Poligami (PMP) sebagai platform pembinaan ruh, ilmu, dan adab
bagi para suami yang ingin menjalani syariat ini dengan benar.
🎯 PMP mengajarkan bahwa:
- Poligami bukan ajang koleksi istri, tapi amanah besar sebagai pemimpin spiritual keluarga.
- Kunci sukses poligami bukan pada teknik menyembunyikan, tapi pada kekuatan ruh, kepemimpinan, dan keseimbangan.
📌 Seperti Kartini yang hanya mampu menerima poligami karena tujuan luhur dan kesepakatan adil,
maka PMP mendidik para suami agar mampu menciptakan lingkungan adil, teduh, dan penuh keberkahan bagi seluruh anggota keluarganya.
🪷 Penutup:
Kartini dan Poligami — Bukti bahwa Cinta, Ilmu, dan Iman Bisa Hidup Bersama
Mari berhenti melihat poligami sebagai bayang-bayang masa lalu yang kelam.
Mari mulai melihatnya sebagai pintu masuk ke kematangan spiritual, kepemimpinan sosial, dan solusi peradaban.
📖 Jika Kartini saja mampu menerima poligami dalam bingkai cinta dan visi pendidikan,
maka Anda pun bisa, dengan bimbingan yang tepat, niat yang bersih, dan ruh yang besar.
🌐 Bersama Coach Hafidin di www.coachhafidin.com
Bangun poligami yang bukan hanya mungkin, tapi membahagiakan.
Bukan hanya sah, tapi menginspirasi.
Bukan hanya halal, tapi berdampak.
Barokallah fiikum
Coach Hafidin – Mentor Poligami Expert
Baca Juga: